Skip to main content

Menjadi Introvert bukanlah kesalahan

       " Bagaimana bisa seseorang kurang pergaulan sepertimu bertahan hidup? "
       " Pasti kau kesepian sekali, bukan? "
       " Kau tidak akan berhasil apabila terus menutup diri seperti ini "
       " Untung saja aku Ekstrovert "

       
       Dan masih banyak kalimat lain yang sudah menjadi akrab ditelinga kami para introvert. Berbicara tentang introvert, mungkin sebagian besar dari kalian sudah paham tentang garis besar dari sebuah klasifikasi kepribadian yang satu ini. Kepribadian yang satu ini lawan dari ekstrovert. Sebagaimana ekstrovert yang sangat membutuhkan pengaruh dunia luar dalam kesehariannya, terkenal easy going dan suka bersosialisasi Introvert yang justru segala kebalikan yang ada pada ekstrovert. Introvert yang cenderung pemalu dalam kegiatan sosialisasi, cenderung menganalisa sebelum bertindak ataupun berbicara, dan lebih suka bekerja sendiri atau bahkan lingkup-lingkup kecil orang orang. 

Menarik menjadi sebuah bahasan kali ini. Aku sudah hidup sebagai Introvert sejak duduk disekolah dasar. Aku tidak tahu pasti apa saja yang bisa membentuk manusia masuk ke dalam jenis kepribadian ini namun, aku sendiri berhasil menjadi seorang introvert akibat lingkungan sekitarku yang entah membuatku lebih menikmati waktu-waktu sendiri. Sejak masih di sekolah dasar aku menjadi korban bullying entah kenapa dan mengapa. Aku tahu satu hal pasti juga karena aku tidak aktif dalam berbagai kegiatan saat sekolah dasar. Penyakit keras yang menimpaku kala itu membuatku hanya harus duduk memperhatikan temanku berlatih Marching Band kesukaanku. Hal itu bertambah parah saat aku harus menempuh sekolah menengah pertama disalah satu sekolah negeri di kotaku. Kali ini aku yang sudah terlalu nyaman menjalani segala hal sendiri atau hanya bersama sahabatku sejak sekolah dasar. Kali ini aku harus dibuat takut bersosialisasi, takut membuat pertemanan, takut mempercayai siapapun. Kali ini jelas aku paham aku dibully dengan alasan apa.  Aku yang cukup mahir berbahasa Inggris berhasil difitnah satu sekolah dengan kalimat cukup pahit jika didengar. " Asal kau tahu saja, pasti dia menyontek, liat handphone atau entah bagaimana caranya pasti ini bukan nilai aslinya". seperti itu gambaran perkataan salah seorang murid sekolahku saat aku berhasil mencetak nilai tertinggi ujian sekolah mata pelajaran favoritku itu. Namun, dari situ aku makin akut dengan kesendirianku. Seperti dulu hanya sebuah pagar kayu yang mengelilingiku kini sebuah tembok 10 meter membuatku semakin tertutup.Tenang saja, Sekolah menengah akhirku tidak terjadi kasus serupa apalagi ditempatku berkuliah strata 1 sekarang. Aku tentram dan damai selama tiga tahun duduk dibangku sekolah menengah akhir. Bukan kasus pembulian yang menimpaku, tetapi hal parah lain yang mungkin aku ceritakan dilain kesempatan. Namun, aku disanalah aku paham dengan identitasku sebagai Introvert. Aku tidak melakukan banyak sosialisasi, temanku juga itu-itu saja dan aku lebih suka kemana-mana sendirian. namun itu tidak masalah bagiku. 

        Tetapi citra itu sudah dirusak bukan? Introvert yang kita ketahui kini hanyalah sebuah kepribadian anti-sosial. Menolak bersosialisasi, tertutup dan kuper. Entah bagaimana orang-orang diluar sana mengambil tolak ukur seperti ini. Ceritaku mungkin hanyalah satu dari ribuan alasan mengapa menjadi seorang Introvert. Faktor terbsesarnya pun apalagi kalau bukan lingkungan dan pergaulan. Dan mengapa menjadi seorang Introvert kini kian menjadi sebuah kesalahan, atau bahkan penyakit kejiwaan. Cukup membuatku berpikir keras bertahun-tahun belakangan ini.

Anti-sosial. Sekilas orang akan menyamaratakan introvert dan penyakit kejiwaan yang sering dikenal sebagai ASP atau anti-social personality disorder. Seringkali hanya bisa melapangkan dada jika dipanggil " Hey, ansos!". oleh temanku. Namun, sekali lagi seorang introvert mungkin adalah orang yang akan memikirkan lamat-lamat sebelum bertindak. Hingga tidak mungkin mereka akan langsung meladeni ucapan serendah itu. Maksudku, para introvert saja berbicara hanya jika itu penting dan sepadan untuk ditanggapi. Tidak termasuk apabila itu sudah sangat tidak sopan dan bukanlah hal baik untuk jatuh sebagai gurauan. 

Sering sekali melihat sekitar, mengamati tentang perlakuan belas kasihan yang disodorkan kepada para introvert. Jujur, mungkin tak hanya aku karna tulisan ini lahir dari pikiranku, melainkan banyak para introvert diluar sana akan sama pedihnya apabila disandingkan dengan kata penyembuhan. Sekali lagi ditegaskan dan perlu digaris besari bahwa introvert bukanlah sesuatu yang harus disembuhkan. Stigma yang menempel pada introvert sekarang sudah campur aduk. Entah faktanya kami hanyalah jenis kepribadian yang sangat menghargai solitude dan lebih memilih memperhatikan sekitar, bekerja dengan menganalisa, berfikir sebelum berbicara dan sesederhana menyimpulkan kami orang yang menikmati kesendirian kini harus dicampur dengan stigma negatif bahwa kami adalah sekumpulan orang dengan penyakit kejiwaan, orang yang menolak bersosialisasi atau bahkan kami adalah orang-orang yang hidupnya hanya menjadi kerikil diantara para ekstrovert.

Introvert sama kedudukannya dengan para ektrovert. Kami butuh teman bicara, kami butuh bersosialiasi dan kami bukanlah orang yang pemalu ataupun tidak pandai berbicara didepan umum. Lantas perbedaan itu terletak pada dosis yang masing-masing kami butuhkan. Introvert akan membutuhkan dosis yang lebih sedikit daripada ekstrovert dalam hal ini. Setelah bersosialisasi kami akan sangat menghargai waktu-waktu sendiri untuk istilahnya recharging. Dan introvert tidak akan memikirkan kesediaan dosis saat bersosialisasi dengan segelintir orang yang memang benar-benar dekat dengan mereka. Ini mengapa seorang introvert akan sangat sulit memilih teman dekatnya. Karna dia akan berubah menjadi seorang yang aktif berbicara tanpa henti bila bersama orang-orang kepercayaannya. 

Dari paragraf sebelumnya jelas sekali bukan, introvert bukan sebuah kesalahan yang hadir didalam diri seseorang. Tidak tanpa alasan pula Carl Jung atau pengagasan dua jenis kepribadian ini membuat dua klasifikasi kepribadian yang saling bertolak belakang ini. Mungkin apabila menemui orang-orang introvert, kalian harus tidak mudah menyerah untuk berbicara dengannya. Mereka mungkin awalnya akan merespon seadanya namun jika topik yang kalian pilih dapat menarik perhatiannya kalian bisa menjadi teman bicara yang asyik untuk satu sama lain. 

Comments

Popular posts from this blog

Jauh dari rumah

 berkelana jauh lalu berlabuh namun apakah ada yang kuasa menjadi sandaran disaat letih tak berkesudahan merontah ingin memangsa disaat tak ada lagi mimpi sanggup diburu disaat rindu tak mungkin lagi mau melanglang jauh aku punya sesuatu yang selalu menuntunku kembali entah ditanah mana kaki berpijak entah dibawah langit mana kepalaku terlihat dimana aku tak perlu bersusah payah membunuh pikiranku tentang betapa payah aku ditempat yang bukan rumahku ragaku yang rapuh mustahil terlihat olehmu berdiri dengan jiwa yang tak setuju aku sadar dengan berkelana jauh dari rumah adalah hal terbodoh yang pernah aku setujui

Tidak ada Rumah

Hidup diatas perkataan orang lain yang muncul untuk sekiranya membuatnya sedikit bahagia adalah salah, apabila kau harus rela melepas dirimu demi kepalsuan yang demikian orang-orang lain inginkan. Kita tidak hidup dalam satu denyut nadi yang seirama, Hingga sekeras apapun usahaku bercerita tentang kemana kaki-kaki ini pernah dan akan berjelajah kau akan tetap berkata bahwa kita akan pulang pada satu atap rumah yang sama. Situasi yang hadir sama sekali tidak pernah mendefinisikan rumah dikepalaku, Entah kepalaku yang sudah rusak atau makna itu yang rusak? mungkin bisa kita perbaiki bersama Saya tidak lahir dan tumbuh besar untuk memenuhi segala omongan orang. Namun saya lahir dan tumbuh besar berkat omongan orang entah sifatnya baik dan membangun atau mungkin saja sudah bersekongkol pada setan mana hingga niatnya menghancurkan. Pada satu malam kata-kata ini tertulis pada layar ponselku, mungkin aku sudah gelisah. digeneralisasikan pada seluruh aspek yang lahirnya berbeda. itu saja.

Gebrakan Tersirat dari Meme

  Sudah berapa kali kamu melihat dan tertawa pada meme internet hari ini untuk menghibur diri sendiri? Ketika berselancar di dunia maya atau sekadar scrolling beranda sosial media, pasti tidak sedikit unggahan meme internet membuatmu tertawa geli kar e na sajian humor yang dimuatnya. Seperti itulah kurang lebih bahasa komunikasi di era kesejagatan ini, meme internet turut serta membentuk budaya baru. Seperti virus, meme adalah sesuatu yang menyebar dari satu orang ke orang lainnya. Definisi ini merujuk pada neologisme yang digunakan Richard Dawkins dalam bukunya The Selfish Gene untuk menyebut hal yang menyebar dalam sebuah budaya , baik itu gaya hidup, ide, perilaku, hingga suasana hati. Jika dikaitkan, semua unggahan meme itu kemudian adalah hal yang saling disebarkan antara orang ke orang lainnya melalui internet. Dalam proses saling menyebarluaskan ini, meme internet tentu memuat sebuah isu yang sebaik mungkin dikemas dalam bentuk humor yang menggelitik. Hal tersebutlah ...